BerandaBeritaMeski Bahan Baku Mahal, Semangat Usaha Keripik Rumahan di Serang Tak Surut

Meski Bahan Baku Mahal, Semangat Usaha Keripik Rumahan di Serang Tak Surut

Saluran WhatsApp

Serang, Bantentv.com – Di tengah kenaikan harga minyak goreng dan bahan kemasan plastik, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Sukalaksana, Kecamatan Curug, Kota Serang, tetap bertahan menjalankan usaha keripik pisang dan singkong yang telah digelutinya selama 10 tahun.

Santinah, seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Curug, Kota Serang, menekuni usaha keripik pisang dan singkong sejak 10 tahun lalu.

Di rumah sederhananya, Santinah memproduksi keripik pisang rasa original serta keripik singkong dengan dua varian rasa, yakni original dan pedas. Dalam menjalankan usahanya, Santinah dibantu oleh suami dan keponakannya. Namun, kenaikan harga minyak goreng dan plastik kemasan menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi.

“Usaha ini sudah saya jalani kurang lebih 10 tahun, awalnya hanya coba-coba sampai akhirnya terus berjalan sampai sekarang,” ujar Santinah.

Baca Juga: Renyah Tanpa Pengawet, Keripik Tempe Rumahan di Cikande Jadi Andalan Warga untuk Oleh-Oleh Mudik

Meski biaya produksi terus meningkat, Santinah memilih tidak menaikkan harga jual. Satu bungkus keripik masih dijual seharga Rp2.500 dengan kemasan plastik sederhana.

“Kalau harga bahan naik, saya tetap bertahan di harga jual yang sekarang, karena takut pelanggan berkurang,” ungkapnya

Saat permintaan sedang tinggi, Santinah mampu memproduksi hingga 700 bungkus keripik per hari. Proses produksi dilakukan pada sore hari menggunakan peralatan sederhana dan kayu bakar yang dinilai memberikan cita rasa khas pada keripik buatannya.

Baca Juga: UMKM Lokal Desa Waringinkurung, Keripik Tempe Aci Jadi Andalan Ekonomi

Santinah mengatakan, ia mulai berjualan keripik sekitar 10 tahun lalu. Keripik hasil produksinya biasa dijual di Pasar Ciruas pada tengah malam, dengan sebagian besar pembeli merupakan pekerja yang berangkat pada pagi hari.

“Biasanya saya jual malam di Pasar Ciruas, pembelinya banyak dari para pekerja yang berangkat pagi,” katanya.

Dari usaha tersebut, Santinah mengaku mampu memperoleh keuntungan sekitar Rp3 juta per bulan. Ide membuka usaha sendiri muncul setelah sebelumnya ia menjual keripik milik orang lain.

Editor : Erina Faiha

TERKAIT
- Advertisment -