Bantentv.com – Hari ini Kota Cilegon berulang tahun. Saya punya satu cerita. Tentang sebuah tempat yang kini tinggal nama.
Begini Ceritanya: Tak lama setelah dilantik pada 7 April 2000, Wali Kota Tb Aat Syafaat langsung dihadapkan pada persoalan besar. Lokalisasi Sangkanila, yang letaknya tak jauh dari Pelabuhan Merak. Mayoritas orang tahu tempat itu, meski tidak semua pernah melihatnya langsung.
Walaupun belum pernah melihat langsung, Sangkanila bukan sekadar lokasi. Ia adalah ruang hidup. Tempat banyak orang bertahan. Menghidupi diri, anak, bahkan orang tua di kampung.
Di sana bukan hanya ada aktivitas prostitusi. Ada pedagang makanan, minuman, dan berbagai usaha kecil yang bergantung pada perputaran ekonomi di dalamnya.
Saya mengingat itu dengan jelas. Karena saat mulai ditertibkan saya ada di sana. Sebagai wartawan, saya meliput langsung prosesnya. Ada sosialisasi. Ada dialog. Dari satu pertemuan ke pertemuan lain. Di sekretariat daerah. Di hotel.
Saya melihat bagaimana dialog berlangsung. Tidak selalu tenang. Banyak tidak tenangnya. Ada penolakan, kegelisahan, ada juga kekhawatiran. Ada ketidakpastian, suara keras, dan ada sikap tegas.
Karena yang dibicarakan bukan sekadar penertiban. Tapi penghidupan. Sangkanila tidak bisa diperlakukan seperti persoalan biasa. Pedagang kaki lima dipindahkan masih bisa berjualan.
Tapi Sangkanila? Ditutup, artinya memutus sumber hidup. Itu sebabnya, di banyak daerah, lokalisasi tidak pernah benar-benar hilang. Hanya bergeser. Atau menyebar.
Namun saat itu, Cilegon memilih jalan yang berbeda. Walikotanya berani. Tegas. Keputusan diambil. Bukan sekadar menutup. Tapi menyelesaikan.
Prosesnya panjang. Tidak mulus. Bahkan sempat terasa seperti mundur. Ada yang kembali. bertahan di sekitar. Ada juga mencoba. Kucing-kucingan. Lalu menyerah.
Saya menulis itu semua. Karena memang begitu kenyataannya. Penutupan itu tidak selesai dalam satu keputusan. Butuh keberanian untuk terus berjalan saat hasil belum terlihat.

Sampai akhirnya, Sangkanila benar-benar hilang. Dari situ saya tahu, yang bekerja bukan hanya kebijakan. Tapi keberanian. Dan konsistensi.
Masalahnya Bukan Peluang, Tapi Kesiapan
Hari ini, Cilegon menghadapi tantangan yang berbeda. Pengangguran meningkat. Dari sekitar 6 persen pada 2024, menjadi di atas 7 persen pada 2025. Posisi tiga pengangguran terbanyak setelah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.
Di saat yang sama, investasi terus masuk. Pabrik baru berdiri. Nilainya triliunan rupiah. Sekilas terlihat ironis. Namun itulah kenyataannya. Cilegon adalah kota industri. Padat modal. Padat teknologi.
Industri tumbuh, tetapi tidak selalu menyerap banyak tenaga kerja. Mesin dan teknologi menggantikan banyak peran manusia. Kebutuhan tenaga kerja menjadi semakin spesifik. Tidak cukup hanya lulus sekolah atau kuliah. Harus sesuai. Harus tepat.
Padahal, industri itu tidak datang tiba-tiba. Investasi disiapkan bertahun-tahun. Perencanaan sangat matang. Perizinan panjang. Pembangunan pabrik tidak selesai dalam satu tahun. Bertahun-tahun. Artinya, kebutuhan tenaga kerja sebenarnya sudah bisa dibaca jauh sebelum pabrik berdiri.
Termasuk kualifikasinya. Pendidikan apa. Ahli apa. Standar nilainya berapa. Juga standar minimal kompetensinya. Semua sudah ada. Seharusnya, itu menjadi ruang untuk menyiapkan. Yang kita hadapi hari ini bukan kekurangan peluang, melainkan kekurangan kesiapan.
Industri datang dengan perencanaan yang matang, sementara kita sering datang dengan harapan yang terlambat. Ketika perusahaan berdiri, yang muncul justru tuntutan, bukan kesiapan. Di situlah persoalan sebenarnya. Jangan sampai yang terjadi berulang.
Masyarakat bergerak setelah rekrutmen tenaga kerja selesai. Tuntutan muncul, tetapi hanya untuk ruang-ruang paling dasar. Padahal peluang yang tersedia jauh lebih luas.
Saatnya Berpikir Lebih Luas
Link and match pendidikan bukan lagi pilihan. Tapi keharusan. Pendidikan harus terhubung dengan industri. Pelatihan harus spesifik. Terarah.
Namun itu saja tidak cukup. Karena tidak semua orang akan menjadi karyawan. Harus ada keberanian membuka jalan lain. Hilirisasi harus dipetakan. Industri membutuhkan apa. Menghasilkan apa.Turunannya bisa menjadi apa. Dan siapa yang bisa mengambil peran di sana.
Dari situlah peluang lahir. Dari situlah tenaga kerja terserap. Bukan hanya di dalam pabrik, tetapi dari ekosistem yang tumbuh di sekitarnya. Ini bukan pekerjaan ringan. Tidak instan. Tidak sederhana. Tapi bukankah kita pernah menyelesaikan yang lebih sulit?
Saya melihatnya sendiri. Kalau Sangkanila saja bisa ditutup, maka tidak ada alasan untuk ragu menyiapkan masa depan Cilegon. Cilegon pernah berani. Konsisten. Tampil di depan.
Kini saatnya kembali berani. Tampil sebagai pembuka jalan. Bukan hanya menutup yang bermasalah, tetapi membuka jalan bagi kesejahteraan warganya. Selamat Ulang Tahun ke-27 Kota Cilegon. ***