Bantentv.com – Istilah pink moon kerap menimbulkan anggapan bahwa Bulan akan tampak berwarna merah muda di langit malam. Padahal, fenomena ini merujuk pada fase bulan purnama yang terjadi pada waktu tertentu dalam setahun. Nama yang unik membuat fenomena ini menarik perhatian dan sering dikaitkan dengan berbagai mitos.
Secara astronomi, pink moon tetap merupakan bagian dari siklus fase Bulan yang terjadi secara alami. Fenomena ini diperkirakan mencapai puncaknya pada 2 April 2026. Meski demikian, pink moon tidak berbahaya bagi Bumi.
Pink Moon Tidak Berwarna Merah Muda
Pink moon adalah sebutan untuk fase bulan purnama yang terjadi pada bulan April. Pada fase ini, Bulan tidak benar-benar berubah warna menjadi merah muda seperti yang sering dibayangkan. Warna Bulan tetap terlihat putih kekuningan seperti fase purnama pada umumnya.
Baca Juga: Mengenal Fenomena Super Blue Moon yang Terjadi di Indonesia
Nama pink moon sendiri berasal dari tradisi penamaan musim di Amerika Utara yang merujuk pada bunga liar berwarna merah muda yang mekar pada musim semi.
Pengaruh terhadap Pasang Air Laut
Salah satu dampak yang dapat dirasakan dari fase bulan purnama adalah meningkatnya pasang air laut. Mengutip NASA, kondisi ini terjadi karena gaya gravitasi Bulan menarik massa air di Bumi sehingga memicu pasang surut laut.
Pada kondisi tertentu, pasang air laut yang lebih tinggi berpotensi menyebabkan banjir rob di wilayah pesisir, terutama di daerah yang memiliki permukaan tanah rendah. Meski demikian, fenomena tersebut tidak hanya dipengaruhi fase Bulan, tetapi juga faktor cuaca serta kondisi geografis setempat.
Cahaya Bulan Tampak Lebih Terang
Saat fase purnama, permukaan Bulan yang menghadap Bumi hampir sepenuhnya tersinari Matahari. Dilansir dari U.S. Naval Observatory, sekitar 99 hingga 100 persen bagian Bulan yang terlihat dari Bumi berada dalam kondisi terang.
Baca Juga: Sejak Kapan Warna Pink identik dengan Perempuan dan Biru untuk Laki-laki? Ini Penjelasannya!
Cahaya yang terlihat bukan berasal dari Bulan, melainkan pantulan sinar Matahari. Kondisi ini membuat langit malam tampak lebih terang dibandingkan fase Bulan lainnya.
Dapat Mempengaruhi Aktivitas Makhluk Hidup
Cahaya Bulan yang lebih terang saat purnama juga dapat memengaruhi perilaku sejumlah makhluk hidup. Natural History Museum menyebutkan fase Bulan dapat memengaruhi pola aktivitas hewan, seperti berburu, migrasi, hingga reproduksi.
Beberapa hewan nokturnal menjadi lebih aktif saat malam lebih terang, sementara sebagian lainnya justru menghindari cahaya untuk mengurangi risiko predator. Pada manusia, sebagian orang juga melaporkan perubahan kualitas tidur saat fase bulan purnama, meskipun pengaruhnya tidak signifikan.
Fenomena pink moon dapat disaksikan dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus. Dampak yang terjadi, seperti pasang surut air laut dan meningkatnya cahaya malam, merupakan proses alam yang normal sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.
Editor : Erina Faiha