Lebak, Bantentv.com – Setiap pagi sebelum matahari muncul, Cacang Hidayat (55) sudah menapaki jalan panjang menuju SMP Negeri 2 Cibadak, tempat ia mengabdikan diri sebagai pegawai honorer selama hampir 25 tahun. Namun, di balik keteguhan itu, kehidupan pribadinya jauh dari kata nyaman.
Cacang tinggal bersama istri dan anaknya di rumah reyot yang nyaris roboh. Dinding miring, atap bocor, dan lantai hanya tanah keras yang menjadi alas seluruh aktivitas keluarga.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung itu kini menjadi saksi bisu perjuangan mereka bertahan hidup.
Dengan penghasilan Rp800.000 per bulan, diterima setiap akhir bulan, Cacang tak memiliki pilihan selain hidup di tengah keterbatasan.
“Selama lebih dari 24 tahun mengabdi, saya tetap menjalankan tugas meski penghasilan sangat terbatas,” ujarnya.
Baca Juga: Miris! Pasutri di Lebak Tinggal di Rumah Reyot Hampir 20 Tahun
Rutinitasnya dimulai sejak pukul 05.00 WIB. Ia berjalan kaki hampir dua jam setiap hari menuju sekolah.
Kadang, seorang tetangga memberinya tumpangan. Meskipun lelah, semangat Cacang tidak pernah padam.
Sejak Juni 2001, ia setia menjaga sekolah dan perpustakaan, meski kondisi rumahnya memprihatinkan.

Keterbatasan ekonomi membuat kebutuhan keluarga sebagian besar disokong dari hasil kebun dan pendapatan istrinya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga sekaligus membantu pembibitan jamur. Penghasilan istrinya tidak tetap, berkisar Rp200.000–Rp300.000 per minggu.
Rumah yang mereka tempati dibangun pada tahun 2000 dan tak pernah direnovasi. Beberapa waktu lalu, atap rumah semakin parah setelah tertimpa pohon tumbang.
“Saya tidak mampu memperbaikinya, jadi biarkan saja. Sampai sekarang masih berantakan,” ungkap Cacang dengan lirih.
Meski hidup serba kekurangan, Cacang tetap bekerja karena harus menafkahi keluarga dan tidak memiliki keahlian lain.
Setelah bertahun-tahun mengikuti berbagai tes, akhirnya tahun ini ia lolos sebagai P3K Paruh Waktu.
“Nomor NIP sudah keluar. Tinggal menunggu pelantikan bulan Desember ini. Alhamdulillah,” ucapnya dengan mata berbinar.
Namun, di balik kabar baik itu, tersimpan satu impian besar. Rumah yang layak bagi keluarganya.
“Saya ingin rumah yang sederhana tapi aman, tidak bocor, dan tidak takut roboh. Itu saja sudah cukup,” pungkas Cacang sambil menatap rumah reyotnya, seolah menabung harapan untuk hari esok.
Kisah Cacang Hidayat adalah cermin perjuangan ribuan pegawai honorer di Indonesia. Setia mengabdi, hidup dalam keterbatasan, dan tetap menyimpan harapan untuk masa depan keluarga.