Lebak, Bantentv.com – Di pedalaman Kabupaten Lebak, ritme kehidupan Suku Baduy berdenyut pelan melalui suara halus pintalan benang. Hampir di setiap rumah panggung berlantai bambu, para perempuan Baduy duduk bersila di bale-bale, tekun merangkai helai demi helai benang dengan alat tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Bagi masyarakat adat Baduy, tenun bukan sekadar kerajinan tangan. Ia adalah cermin ketaatan pada adat sekaligus identitas budaya yang bertahan ratusan tahun.
Dari selendang sederhana hingga motif Janggawari yang rumit, setiap pola lahir dari kesabaran, filosofi, dan kearifan lokal yang mengalir dalam kehidupan mereka.
Di Kampung Kadu Ketug 1, Ambu Rani, perempuan Baduy Luar, tersenyum ramah sambil terus memintal benang cokelat muda.
Baca Juga: Mengenal Motif Wastra Tenun Asli Baduy Banten
Tangan dan matanya bergerak serasi mengikuti irama alat tenun yang melilit di pinggangnya.
“Saya diajarin menenun sama Ibu waktu umur delapan tahun,” ujarnya mengenang masa kecilnya.
Ambu Rani menjelaskan bahwa hampir seluruh perempuan di Baduy, baik di Baduy Luar maupun Baduy Dalam, memiliki kemampuan menenun. Aktivitas itu menjadi bagian dari keseharian mereka, selain bekerja di ladang.
“Hampir semua perempuan di kampung ini bisa nenun. Ini pekerjaan sampingan setelah berladang,” katanya.
Motif Khas Baduy
Namun bagi perempuan Baduy, menenun bukan sekadar rutinitas. Setiap motif memiliki teknik pengerjaan yang berbeda, termasuk proses panjang jika menggunakan pewarna alami dari bahan-bahan hutan.
“Ini lagi bikin pewarnaan alami. Warnanya dari kulit mahoni, indigo, mengkudu, sampai kulit jengkol juga bisa,” tuturnya sambil menunjukkan bahan pewarna di sampingnya.
Menurutnya, motif adu mancung, suat, songket, hingga janggawari merupakan ciri khas Baduy.
Proses paling rumit adalah pewarnaan alami karena benang harus dipintal saat masih putih sebelum dicelup ke larutan warna.
Baca Juga: Tradisi Seba Baduy 2024, Berjalan Kaki Sejauh 50 Kilometer
“Yang paling sulit itu yang pakai pewarna alami. Cara pintalnya beda dari yang sintetis,” jelasnya.
Kerumitan proses ini membuat harga kain tenun Baduy bervariasi. Selendang dengan warna alami dijual mulai Rp150.000, bahan kain bisa mencapai Rp500.000, dan motif Janggawari dengan pewarna alami bisa menembus Rp1,5 juta.
“Yang alami banyak dicari pengunjung, tapi karena harganya agak mahal, ada juga yang pilih sintetis,” tambahnya.
Dalam sebulan, Ambu Rani bisa memperoleh pendapatan Rp1 juta hingga Rp3 juta dari hasil tenunannya.
Generasi Penenun Muda
Sementara itu, di Kadu Ketug 2, seorang gadis muda bernama Daci (18) tampak menunduk serius menyusun motif Janggawari.
Meski baru belajar, kemampuan tangannya bergerak cepat mengikuti tradisi perempuan Baduy yang biasanya mulai menenun sejak usia tujuh tahun.
“Kalau yang biasa harganya Rp50.000. Kalau Janggawari Rp150.000,” ujarnya singkat.
Di tengah derasnya perubahan zaman, perempuan Baduy menjadi penjaga utama warisan leluhur.
Tenun bukan hanya keahlian, tetapi napas kehidupan yang menyatukan tradisi, identitas, dan harapan.
Dari pedalaman Lebak, karya mereka terus hidup dan dicintai banyak orang dari berbagai penjuru negeri.