Lebak, Bantentv.com – Kabupaten Lebak tidak hanya dikenal karena keindahan destinasi wisatanya. Daerah ini juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini, salah satunya adalah Jojorong.
Kue tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga maupun wisatawan yang datang ke Lebak.
Jojorong memiliki ciri khas berwarna putih dengan isian gula merah di bagian tengahnya. Kue ini dibungkus menggunakan daun pisang, sehingga memberikan aroma alami yang semakin menggugah selera.
Baca Juga: Bolu Kuwuk, Kue Kering Tradisional Khas Cilegon yang Selalu Hadir di Meja Lebaran
Perpaduan tekstur lembut dan rasa manis membuat Jojorong kerap diburu para pencinta kuliner tradisional.
Di Kampung Selaraja, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, Jojorong diproduksi setiap hari oleh seorang pengrajin bernama Iyar (56).
Ia secara rutin membuat kue Jojorong untuk memenuhi permintaan pasar yang masih cukup tinggi.

Proses pembuatan Jojorong dilakukan secara tradisional. Tahap awal dimulai dengan menyiapkan wadah dari daun pisang.
Setelah itu, adonan yang telah diracik dimasukkan ke dalam lipatan daun pisang, lalu diberi gula merah di bagian tengah adonan. Selanjutnya, Jojorong yang sudah dicetak direbus hingga matang.
Hingga saat ini, proses perebusan masih menggunakan kayu bakar, sehingga cita rasa khasnya tetap terjaga.
Setelah matang, Jojorong langsung diangkat dan siap disajikan maupun dipasarkan kepada pembeli. Produksinya pun terbilang stabil setiap hari.
“Dalam satu hari mampu memproduksi kue jojorong sebanyak 200 hingga 400 biji kue jojorong dengan harga jual Rp12 ribu per 10 buah,” ungkapnya
Jojorong yang dibungkus daun pisang ini kerap menjadi incaran pengunjung yang datang ke Kabupaten Lebak.
Selain dijual sebagai jajanan harian, Jojorong juga sering hadir dalam acara selamatan maupun pesta pernikahan.
Kehadirannya bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.