Bantentv.com – Menjelang akhir tahun, Indonesia memasuki fase cuaca paling aktif. Hal ini akibat bertemunya berbagai fenomena atmosfer global, regional, dan lokal. Kondisi ini tidak hanya dipicu oleh puncak musim hujan. Interaksi monsun Asia, gelombang atmosfer, hingga potensi siklon tropis juga membuat cuaca semakin tidak stabil.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut periode Desember hingga Februari sebagai jalur “padat merayap” sistem cuaca.
Dalam rentang ini, berbagai fenomena bekerja bersamaan dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem di banyak wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer berskala besar hingga lokal saat ini sedang sangat aktif. Ini menjadi pemicu utama peningkatan curah hujan.
“Gelombang Rossby Ekuator, Gelombang Kelvin, dan Madden-Julian Oscillation (MJO) masih berkontribusi pada dominasi hujan di banyak wilayah Indonesia,” ujar Guswanto dalam keterangannya, Kamis, 4 Desember 2025.
Baca Juga: BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem, Polda Banten Imbau Warga Tetap Waspada
Memasuki Desember, angin monsun dari Asia menuju Australia mulai menunjukkan peningkatan intensitas. Di wilayah Laut China Selatan dan sekitar Natuna, kecepatan angin telah melampaui 18 km/jam.
Sementara itu, beberapa perairan dalam seperti Selat Karimata hingga Laut Banda masih mencatat kecepatan angin yang lebih rendah.
Puncak monsun diperkirakan terjadi pada Januari. Saat itu, angin kencang merata di banyak wilayah perairan Indonesia dengan kecepatan lebih dari 18,5 km/jam. Kondisi ini berpotensi memicu gelombang tinggi di atas 1 meter.
Saat memasuki Februari, monsun mulai melemah. Meski demikian, kondisi laut di beberapa wilayah—terutama yang menghadap langsung ke samudra lepas—masih berpotensi bergelora.
Selain monsun, gelombang alun (swell) dari Samudra Hindia dan Pasifik turut meningkatkan tinggi gelombang. Hal ini terutama di perairan barat Sumatra, selatan Jawa hingga NTT, serta wilayah Papua.
Pada periode yang sama, munculnya siklon tropis di belahan bumi selatan semakin memperkuat angin. Ini memicu gelombang lebih tinggi di perairan selatan Indonesia.
Banyak Fenomena Bekerja Bersamaan
BMKG menegaskan bahwa atmosfer Indonesia dipengaruhi kombinasi fenomena tahunan seperti ENSO dan IOD. Selain itu, dinamika mingguan seperti MJO, Kelvin, dan Rossby juga berperan.
Hal ini diperkuat oleh kondisi harian seperti angin darat-laut, serta fenomena lintas daerah seperti Cold Surge dan Borneo Vortex.
Struktur kepulauan Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, pegunungan, dan lembah menjadikan aliran angin tidak pernah bergerak lurus.
Angin cenderung membelok mengikuti celah antarwilayah, sehingga menghasilkan pola cuaca dan gelombang yang sangat bervariasi di setiap daerah.