Tangsel, Bantentv.com – Darurat sampah melanda Kota Tangerang Selatan. Di tengah krisis penumpukan sampah dan keterbatasan daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA), warga mulai mencari solusi alternatif. Salah satunya dengan menerapkan teba komposter alami, metode pengelolaan sampah organik berbasis kearifan lokal.
Upaya penanganan sampah organik terus dikembangkan di Kota Tangerang Selatan. Melalui program teba komposter alami, warga diajak mengelola sampah langsung dari sumbernya tanpa harus selalu bergantung pada TPA. Program ini diperkenalkan dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Kantor Kecamatan Ciputat, dihadiri oleh perwakilan RW dan lurah se-Kecamatan Ciputat.
Penggiat lingkungan Kota Tangerang Selatan, Anjar Deliawan, menjelaskan bahwa teba komposter merupakan solusi konkret untuk mengatasi sampah organik yang mendominasi sampah rumah tangga.
Baca Juga: Dinas LH Lebak Minta Sampah MBG Didaur Ulang
Secara teknis, teba komposter berupa lubang tanah sedalam sekitar dua setengah meter yang menyerupai sumur. Satu teba mampu menampung hingga dua setengah ton sampah organik, dengan penyusutan volume mencapai sekitar 70 persen setelah terurai.
Proses penguraian berlangsung secara alami selama enam hingga delapan bulan. Idealnya, setiap wilayah memiliki dua teba komposter agar pengelolaan sampah dapat berjalan berkelanjutan. Hasil akhirnya berupa humus yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman konsumsi rumah tangga.
“Kami sudah merencanakan penerapan teba komposter sejak dua bulan lalu. Harapannya, pengelolaan sampah bisa dilakukan mandiri di lingkungan dan tidak lagi bergantung pada TPA,” ujar Anjar.
Program ini mendapat respons positif dari warga karena dinilai efektif mengurangi ketergantungan pada TPA. Iwan, perwakilan warga, menyebutkan bahwa RW 008 Ciputat telah merencanakan penerapan teba komposter sejak dua bulan lalu sebagai langkah awal pengelolaan sampah mandiri di lingkungan mereka.
Editor : Erina Faiha