Bantentv.com – Bulan Mei selalu punya ruang khusus dalam sejarah Indonesia. Bulan ketika kekuasaan Orde Baru yang bertahan selama 32 tahun akhirnya runtuh. Presiden Soeharto mundur pada 21 Mei 1998. Sebuah peristiwa besar yang mengubah arah perjalanan bangsa.
Sebelum sampai pada titik itu, ada rangkaian kejadian yang sampai hari ini masih membekas di ingatan banyak orang.
Salah satunya Tragedi Trisakti, 12 Mei 1998. Peristiwa yang kemudian memicu kerusuhan massal pada 13 hingga 15 Mei.
Demonstrasi membesar. Kota-kota memanas. Penjarahan dan pembakaran terjadi di banyak tempat. Situasi nyaris tidak terkendali.
Dalam Tragedi Trisakti, empat mahasiswa tertembak. Mereka kemudian dikenang sebagai Pahlawan Reformasi.
Salah satunya Hafidin Royan, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Trisakti. Tiga lainnya adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, dan Hendriawan Sie.
Bagi saya, gugurnya Hafidin Royan bukan sekadar kehilangan nama dalam sejarah reformasi. Saya kehilangan seorang teman naik gunung. Hafidin asli Bandung.
Tepatnya dari kawasan Padasuka, sekitar enam kilometer dari Terminal Kebon Kelapa. Pasca gugurnya Hafidin, kamar tidurnya dijadikan semacam museum. Tempat menyimpan barang-barang milik almarhum.
Kami pernah dua kali mendaki bersama. Gunung Rinjani di NTB dan Gunung Agung di Bali. Kami pertama kali bertemu di Mataram. Saat makan ayam taliwang. Saya bersama teman-teman Mapala Unila. Ada Dian, Ulil Ida, dan Ambar. Hafidin bersama beberapa rekannya dari Bandung.
Dari pertemuan sederhana itu, persahabatan tumbuh. Bukan hanya sebatas teman pendakian, tapi terus berlanjut setelah turun gunung.
Sebagai sesama anak Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam), bukan “Mahasiswa Paling Lama” seperti dulu sering diplesetkan, kami tumbuh dalam kultur solidaritas yang khas.
Kultur yang mungkin hanya benar-benar dipahami oleh mereka yang pernah tidur di tenda basah, berbagi logistik seadanya, atau berjalan berjam-jam di jalur pendakian dengan napas tersengal.
Dulu, banyak anak Mapala terlalu asyik naik gunung, susur pantai, susur goa atau caving. Juga menghabiskan waktu untuk panjat tebing, panjat dinding, nongkrong dan bermalam di sekretariat, sampai lupa ruang kuliah. Tapi di balik semua itu, ada persaudaraan yang kuat.
Kalau dalam keluarga ada istilah satu piring berdua, di Mapala lebih dari itu. Satu piring ramai-ramai. Makan apa yang ada. Semua harus makan.
Tidak boleh ada yang lapar sendiri ketika yang lain kenyang. Tidak boleh ada yang kehausan sendiri ketika yang lain masih punya air. Ego pribadi harus diturunkan. Karena di alam bebas, keselamatan bukan urusan sendiri-sendiri. Satu sakit, yang lain ikut merasakan.

Itu juga yang saya alami bersama Hafidin di Rinjani. Saat turun dari puncak, salah satu teman dari Trisakti terkilir. Namanya Agung. Badannya tinggi dan bongsor.
Kami bergantian memapahnya sampai shelter. Dalam medan yang berbahaya, tidak ada pilihan untuk memikirkan diri sendiri. Kalau ingin selamat, semua harus selamat. Cerita itu mungkin kecil. Tapi justru hal-hal seperti itu yang melekat lama dalam ingatan.
Di Gunung Agung, kami juga punya cerita yang sampai sekarang sulit dilupakan. Kami naik malam Jumat dan turun pada hari Jumat. Di tengah perjalanan turun, masuk waktu salat Jumat. Hafidin mengajak kami berhenti untuk salat Jumat.
Waktu itu kami berlima. Ada Ruly dari Unpar Bandung dan dua teman lainnya dari Itenas. Kami akhirnya salat Jumat di tengah perjalanan turun gunung.
Sekarang kalau diingat, saya kadang tersenyum sendiri. Ini karena kami memang anak gunung yang taat ibadah, atau justru karena saat itu kami belum terlalu paham soal fiqih safar. Tapi begitulah kenangan. Kadang justru yang terasa “tidak biasa” itulah yang paling sulit dilupakan.
Tidak semua orang punya pengalaman seperti itu. Tidak semua orang pernah merasakannya. Bahkan di kalangan pendaki sekalipun.
Karena itu, ketika Hafidin Royan tertembak peluru aparat di halaman kampusnya sendiri, rasanya sangat personal bagi saya. Bukan sekadar membaca kabar seorang mahasiswa gugur. Saya seperti kehilangan potongan cerita masa muda.
Menjelang magrib, ketika matahari perlahan turun menutup siang, Hafidin mengembuskan nafas terakhirnya.
Dan sejak hari itu, saya kehilangan seorang teman naik gunung. Teman yang punya cerita khusus. Dan berbeda.