BerandaBeritaAtasi Krisis Membaca, Denmark Hapus Pajak Buku Meski Rugi Rp525 M per...

Atasi Krisis Membaca, Denmark Hapus Pajak Buku Meski Rugi Rp525 M per Tahun

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Denmark berencana menghapus pajak penjualan buku meski kebijakan ini diperkirakan akan mengurangi pendapatan negara hingga Rp525 miliar setiap tahunnya.

Saat ini, Denmark termasuk salah satu negara di Eropa dengan pajak buku tertinggi, yakni 25%.

Langkah tersebut diambil sebagai upaya mengatasi krisis membaca, terutama di kalangan remaja.

Meski bukan yang pertama di Eropa, keputusan Denmark ini menegaskan komitmen serius dalam mendorong budaya literasi di masyarakat.

“Kita perlu melakukan semua yang kita bisa untuk mengatasi krisis membaca ini yang sayangnya telah menyebar dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Menteri Kebudayaan Jakob Engel-Schmidt dikutip dari media Internasional, Rabu, 20 Agustus 2025.

Meskipun kebijakan ini diperkirakan dapat merugikan negara sekitar Rp525 miliar atau 330 juta kroner, Denmark akan melakukan upaya apa saja agar krisis membaca ini segera berakhir.

Baca Juga: Bule asal Denmark Viral Usai Perbaiki Jembatan Rusak Bertahun-tahun di Wakatobi

Kebijakan ini akan berpengaruh secara signifikan terhadap keuangan negara tetapi Denmark tidak ragu untuk mengambil langkah ini karena menganggap sebagai investasi jangka panjang untuk kepentingan literasi masyarakatnya.

Pemerintah Denmark menganggap lebih baik mengatasi krisis ini sedini mungkin dibandingkan dengan membiarkan kualitas sumber daya manusianya turun.

“Ini adalah sesuatu yang saya, sebagai Menteri Kebudayaan telah perjuangkan, karena saya percaya bahwa kita harus mempertaruhkan segalanya jika kita ingin mengakhiri krisis membaca,” jelas Jakob.

Kebijakan ini dilakukan guna membuat akses pembelian buku lebih terjangkau serta mendorong minat para remaja untuk ingin membeli buku agar dapat terhindar dari krisis tersebut.

Pajak pembelian buku yang sangat tinggi bahkan tertinggi di dunia ini mengakibatkan menurunnya minat baca masyarakat.

Selain karena pajaknya yang tinggi, harga buku yang turut melonjak ini menjadi salah satu faktor krisis ini terjadi di Denmark.

Pemerintah Denmark menganggap hal ini harus segera diatasi karena jika dibiarkan akan berpengaruh buruk pada masyarakatnya.

Kepemilikan buku fisik semakin tidak dipentingkan karena teknologi yang semakin canggih. Namun, hal ini berpengaruh secara langsung terhadap remaja.

Berdasarkan laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), terdapat 24% anak remaja usia 15 tahun tidak dapat memahami teks atau bacaan sederhana.

Editor: Siti Anisatusshalihah

Artikel ini ditulis oleh [Alifia Najwa Aponde], peserta program magang di Bantentv.com.
Konten telah melalui proses penyuntingan oleh tim redaksi.
TERKAIT
- Advertisment -