Bantentv.com – Umat Islam telah memasuki bulan Syaban 1447 H pada 20 Januari 2026 lalu berdasarkan Pengumuman Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU).
Dengan penetapan tersebut, malam Nisfu Syaban jatuh bertepatan dengan Senin malam, 3 Februari 2026.
Bulan Syaban menjadi salah satu bulan yang memiliki keutamaan tersendiri dalam tradisi keislaman, khususnya terkait dengan anjuran memperbanyak ibadah menjelang datangnya bulan Ramadan.
Pada malam Nisfu Syaban, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah swt, terutama dengan bermunajat dan memperbanyak doa.
Malam pertengahan bulan Syaban ini diyakini sebagai momentum spiritual untuk memohon ampunan, keberkahan, serta kebaikan hidup di dunia dan akhirat.
Doa Nisfu Syaban dalam Tradisi Keilmuan
Sebagaimana yang dilansir dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam tradisi Nusantara, doa yang umum dibaca adalah doa “Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika”. Doa ini memiliki dasar keilmuan yang kuat.
Menurut keterangan as-Suyuthi, doa tersebut termaktub dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan karya “ad-Dua” karangan Ibnu Abi ad-Dunya yang diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Mas’ud ra.
Berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud, orang yang membaca doa tersebut akan senantiasa diluaskan rezekinya oleh Allah dan dipenuhi segala kebutuhannya. (Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur, juz 4, hal. 661)
Perbedaan Redaksi Doa dan Rujukan Kitab
Dalam praktik masyarakat Indonesia, redaksi doa Nisfu Syaban yang dibaca sering kali sedikit berbeda dengan yang tercantum dalam kitab as-Suyuthi.
Perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan, karena pada hakikatnya doa tidak dibatasi oleh satu redaksi tertentu.
Masyarakat Indonesia umumnya merujuk pada kitab Maslakul Akhyar karya Mufti Betawi, Syekh Sayyid Utsman bin Yahya, dengan redaksi sebagai berikut:
اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِيْ وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in‘ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su‘adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.
Baca Juga: Nisfu Syaban 2026: Waktu, Keutamaan, dan Amalan yang Dianjurkan
Artinya: “Wahai Tuhanku yang Maha Pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, beserta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, hal. 77-80)
Amalan Membaca Surat Yasin di Malam Nisfu Syaban
Dalam tradisi keagamaan masyarakat, malam Nisfu Syaban identik dengan pembacaan surat Yasin sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeda.
Pembacaan pertama diniatkan agar diberikan umur panjang dalam ketaatan kepada Allah. Pembacaan kedua diniatkan untuk memohon rezeki yang halal dan berkah. Sementara pembacaan ketiga diniatkan agar dianugerahi husnul khatimah serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Setiap selesai membaca satu kali surat Yasin, doa Nisfu Syaban tersebut dibaca sebagai bentuk permohonan dan pengharapan kepada Allah swt.
Anjuran Ibadah Lain di Bulan Syaban
Selain membaca surat Yasin dan memperbanyak doa pada malam Nisfu Syaban, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, shalawat, serta bersedekah.
Amalan-amalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan, khususnya di bulan Syaban yang menjadi pengantar menuju bulan suci Ramadan.