BerandaBeritaNasionalHarga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk

Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk

Saluran WhatsApp

Bantentv.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada penerbangan dan perjalanan ibadah, tetapi juga mulai menekan sektor energi nasional. Harga minyak mentah dunia bergerak naik di tengah ketegangan geopolitik. Dalam asumsi APBN, Indonesian Crude Price (ICP) dipatok sebesar 70 dolar AS per barel.

Namun, saat ini harga telah berada di kisaran 78 hingga 80 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut berpotensi menambah beban subsidi energi pemerintah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah tidak ingin terjebak dalam ketidakpastian konflik yang belum jelas ujungnya.

“Sekalipun ada yang mengatakan ketegangan ini selesai dalam lima hari atau empat minggu, keyakinan kami tidak bisa diramalkan kapan selesai,” ujar Bahlil.

Baca Juga: Konflik AS–Israel vs Iran Mulai Berdampak ke Indonesia, 18 Penerbangan Dibatalkan

Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan pers di Kantor Kementerian ESDM, Selasa 3 Maret 2026, seperti dilaporkan Disway.id.

Mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah, pemerintah menyiapkan skenario pengalihan sebagian impor minyak mentah.

Selama ini, sebagian crude Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Dalam skenario terburuk, pemerintah mulai mengalihkan sebagian pasokan ke Amerika Serikat untuk menjaga kepastian ketersediaan energi.

“Skenarionya adalah crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan ke Amerika supaya ada kepastian ketersediaan,” kata Bahlil.

Untuk impor bensin, pemerintah menyebut relatif lebih aman karena pasokan RON 90 hingga 98 saat ini berasal dari berbagai negara di luar kawasan konflik, termasuk Asia Tenggara.

LPG Jadi Perhatian

Selain minyak mentah, LPG juga menjadi perhatian pemerintah. Tahun ini, kebutuhan impor LPG ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,3 juta ton.

Sekitar 70 persen pasokan berasal dari Amerika Serikat dan sisanya dari Timur Tengah.

Pemerintah mempertimbangkan opsi pengalihan tambahan pasokan untuk meminimalkan risiko gangguan distribusi akibat ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Baca Juga: Ketegangan di Timur Tengah Memuncak, IRGC Tutup Selat Hormuz Setelah Serangan AS-Israel ke Iran

Meski kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban subsidi, pemerintah juga mencermati sisi lain.

Dengan produksi minyak nasional sekitar 600 ribu barel per hari, kenaikan harga turut meningkatkan potensi penerimaan negara. “Nah selisih ini yang sedang kita hitung,” ujar Bahlil.

TERKAIT
- Advertisment -