Bantentv.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan mulai aktif pada Juni 2026 dan berlangsung hingga sekitar Maret sampai Mei 2027. Fenomena El Nino tersebut diperkirakan memiliki intensitas sedang hingga kuat dan berpotensi memengaruhi musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.
Dilansir dari Kompas, Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani mengatakan El Nino merupakan fenomena anomali iklim global yang terjadi secara berkala setiap tiga hingga tujuh tahun sekali.
Meski termasuk siklus alamiah, dampak El Nino tetap perlu diantisipasi, terutama ketika bersamaan dengan musim kemarau di Indonesia.
“Jadi, kalau tahun ini aktif, akan berakhir kira-kira di bulan Maret sampai bulan Mei di tahun 2027,” kata Faisal di Senayan, Jakarta, dikutip Minggu, 24 Mei 2026.
“Untuk tahun ini, itu El Nino akan mulai aktif diperkirakan di bulan Juni, nanti dia dengan intensitas kira-kira moderate ya, sampai sini moderate sampai kuat,” sambung dia.
Berpotensi Memperpanjang Musim Kemarau
BMKG mengingatkan El Nino dapat membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Dampak tersebut diperkirakan mulai terasa pada periode puncak kemarau sekitar Agustus hingga September 2026.
Baca Juga: Apa Bedanya Kemarau dan El Nino? Ini Penjelasannya
Menurut Faisal, kondisi yang perlu diwaspadai adalah ketika El Nino terjadi bersamaan dengan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Situasi itu berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, terutama di daerah yang memang rentan mengalami musim kering panjang.
“Dan itu yang perlu kita waspadai ketika di bulan Juni, Juli, Agustus, nanti puncak musim kemarau Agustus, September, itu dapat membuat kemarau di Indonesia akan lebih panjang dan juga lebih kering dari yang terjadi dalam rata-rata 30 tahun terakhir,” ungkap Faisal.
Wilayah yang Diprediksi Terdampak El Nino
BMKG mencatat wilayah Indonesia yang paling terdampak El Nino umumnya berada di kawasan bawah garis khatulistiwa. Daerah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan mengalami dampak lebih signifikan.
Sementara itu, beberapa wilayah di bagian utara Indonesia diprediksi tidak terlalu terdampak oleh El Nino. Di antaranya Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, hingga Kalimantan bagian utara.